Film yang diangkat dari novel saya yang juga berjudul Cinta Suci Zahrana itu, sesungguhnya ingin menyampaikan arti penting tentang sebuah cinta suci yang kini mulai memudar di dalam diri kita, umat manusia. Kenapa selalu cinta (cinta suci) yang seringkali saya bicarakan dalam novel-novel saya, termasuk dalam novel Cinta Suci Zahrana?
Cinta. Ya, kata ini teramat masyhur di kalangan manusia. Ia mewakili sesuatu yang indah. Hampir semua orang menyukainya. Sesuatu yang teramat menyejukkan bagi siapapun yang mendengarnya. Sesuatu yang memiliki nilai magis. Yang sanggup meruntuhkan gunung-gunung keangkuhan. Yang mampu mendamaikan dua orang yang sedang berseteru. Dan mampu memadamkan kobaran api dendam yang membara. Bagi orang-orang yang sakit batinnya, kehadiran cinta laksana tetesan air hujan yang turun di tengah padang sahara.
Jika kebencian mampu mengoyak-ngoyak kebahagiaan seseorang, maka secara berkebalikan cinta justru membangun rasa bahagia itu. Yang mencintai tidak akan melukai. Yang mencinta tidak mungkin merusak. Yang mencintai tidak mungkin menciderai. Yang mencintai tidak pernah menuntut. Yang mencintai tak mengenal kata mengeluh. Karena itu, dunia terlihat begitu indah bagi orang-orang yang mencintai. Inilah awal mula datangnya kebahagiaan.
Seberapa pun banyaknya kekayaan yang kita miliki, seberapa pun tinggi jabatan yang melekat pada diri kita, dan seberapa pun besarnya kekuasaan itu, semuanya tidak memiliki nilai apa-apa, jika kita tidak memiliki cinta di dalamnya. Yang ada hanya keresahan, keresahan dan keresahan. Dunia terasa begitu hampa bagi orang-orang yang tidak pernah menggenggam cinta. Dunia terasa sepi dan rasa perih pun menjadi begitu nyata karenanya.
Cinta adalah sesuatu yang teramat elok dan lembut. Namun begitu, bukan berarti cinta itu keropos tak punya daya, hingga tak mampu melakukan apa-apa. Seorang ibu dengan tulus menjaga keselamatan putra-putrinya. Ibu itu menjadikan dirinya sebagai selimut atas putra-putrinya di malam hari dan menjadikan kakinya sebagai penopang ketika putra-putri mereka belum sanggup berjalan. Seorang ibu mengorbankan nyawanya demi keselamatan putra-putrinya. Ini adalah sebagian kecil dari gambaran akan dahsyatnya kekuatan cinta.
Kedahsyatan cinta juga bisa dilihat dalam catatan sejarah. Dari ayat kauniyah, kita bisa melihat sosok Mahatma Gandhi, seseorang yang bertubuh kurus kering dan ringkih, yang bila tertiup angin sedikit saja seolah pasti jatuh, namun ia memiliki cinta yang besar. Cinta yang menebar ke orang-orang di sekelilingnya. Cinta yang kemudian menjadi kekuatan yang teramat dahsyat yang meluluhkan hati para penjajah. Dengan cinta itulah tanah India mendapatkan kembali kemerdekaannya.
Dalam sejarah juga, kita akan bertemu dengan seorang manusia bernama Syah Jihan. Kekuatan cintanya telah menghasilkan gedung yang paling elok sepanjang zaman, yakni Taj Mahal di India. Nama tempat itu adalah bukti luapan cinta Syah Jihan atas istrinya.
Dan tentu saja dalam sejarah, kita juga akan menemukan Nabi Muhammad Saw., sosok manusia pilihan yang diliputi dengan cinta. Cinta yang dengan lembut mampu menyentuh orang-orang semasanya yang terkenal kasar itu, hingga mereka mau menggerakkan kaki, berjalan menuju naungan Ilahiah. Ajaran Islam yang dibawanya dengan energi cinta itu kini telah dipeluk oleh lebih dari sepertiga penduduk dunia.
Cinta adalah nafas dari kehidupan. Kebutuhan jiwa atas cinta layaknya kebutuhan tubuh terhadap udara. Bila seorang manusia tak mampu bertahan manakala dipisahkan dari udara, maka begitulah, jiwa ini akan menjadi sangat rapuh tanpa memeluk cinta.
Berbicara tentang cinta mengingatkan saya tentang fakta-fakta sejarah yang teramat mengagumkan. Di antaranya adalah hasil penelitian yang menunjukkan bahwa seseorang yang sedang jatuh cinta lebih jarang kelelahan dan rasa sakit hilang begitu saja. Cinta juga menjadi kekuatan yang paling menyembuhkan bagi para penderita sakit. Penelitian yang lain menyimpulkan, rendahnya angka bunuh diri dari orang-orang yang memiliki orang yang dikasihi dibandingkan orang-orang yang tidak memiliki orang yang dikasihi. Ada juga penelitian yang sampai pada kesimpulan, bahwa orang-orang yang hidupnya dinaungi cinta lebih memiliki kemungkinan usia yang lebih panjang, dibanding mereka yang tidak dinaungin cinta dalam hidupnya. Sungguh indah bukan.
Mencintai atau membenci sesungguhnya memiliki pengaruh besar pada cara pandang seseorang atas sesuatu, dan juga berpengaruh pada sikap sesorang terhadap sebuah keadaan. Hingga pada akhirnya, cinta juga menjadi penentu apakah seseorang akan bahagia atau tidak atas kehidupan yang sedang mereka jalani.
Cinta atau pun benci layaknya sebuah kacamata yang mampu mengubah hasil pandangan atas realitas yang dilihat. Orang-orang yang mencinta lebih cenderung memahami apa yang sedang terjadi dan berpikir positif. Ketika ia berjumpa dengan orang yang memasang muka masam kepadanya, tak muncul rasa kesal dalam dirinya. Sebaliknya ia menjadi empatik. Dalam benaknya terus bertanya-tanya, apakah ada sesuatu kejadian buruk yang menimpa orang tadi sehingga wajahnya begitu muram. Adakah ia bisa memberikan bantuan untuk meringankan orang tersebut.
Secara berkebalikan, seseorang yang diliputi kebencian, berpikir sebaliknya. Ketika seseorang tersenyum kepadanya, bukannya ia membalas dengan senyuman, ia malah menjadi marah karenanya. Ia berpikir kalau orang yang tersenyum kepadanya tadi sedang mengejek dirinya. Ia semakin kesal dan mulai berpikir untuk mencari cara bagaimana ia bisa membalasnya.
Tanpa harus didiskusikan panjang lebar, sangat gamblang bagi kita untuk menebak apa yang dirasakan oleh dua orang di atas ini. Seseorang yang dinaungi cinta akan senantiasa menemukan keindahan dalam hidupnya. Dalam keadaan apapun dan bertemu dengan jenis orang dan keadaan macam apapun, sama sekali tidak memengaruhi apa yang ada di dalam dirinya. Yang ada hanya keindahan. Keindahan dan keindahan itulah yang nampak dalam dirinya.
Adapun orang yang dinaungi dengan kebencian, maka dunia hadir layaknya neraka baginya. Tidak ada yang indah. Yang ia rasakan adalah rasa was-was dan benci. Seperti apapun orang berlaku padanya, maka yang dirasa hanyalah rasa sakit dan sakit. Tidur pun tidak nyenyak. Makan pun tidak enak. Meski ia tinggal di sebuah tempat terindah sekali pun, maka semua itu tidak memiliki arti sama sekali. Walau dirinya berada di dalam surga, tapi yang ia rasakan hanyalah neraka.
Tentang hal ini, orang bijak pernah mengajarkan sebuah analogi yang indah. Orang yang diliputi kebencian itu bagaikan orang yang sedang menggendong sekarung makanan busuk di punggungnya. Begitu berat ia melangkah karenanya. Kemanapun ia pergi ia terus saja merasakan bau yang tidak enak. Di mal-mal, di taman-taman, di gunung-gunung, ia terus saja merasakan bau busuk itu. Ia terus memaki. Ia anggap mal-mal itu busuk. Ia sangka taman-taman itu telah terkotori dan gunung-gunung telah ternoda. Ia lupa bahwa bau busuk itu bukan berasal dari taman-taman itu, juga tempat-tempat lain yang sedang ia singgah,i tetapi berasal dari diri mereka sendiri.
Cinta dan benci seperti sebuah virus. Keduanya bisa menyebar begitu cepat. Merasuki ke lubuk orang-orang di sekitar untuk kemudian kembali memantul ke sumber di mana ia berasal. Seseorang yang sedang mencintai orang lain, ia akan memperlakukan orang yang ia cintai itu begitu istimewa. Setiap tindakannya kepada orang itu penuh dengan kelembutan. Setiap kata-kata yang muncul darinya terangkai begitu indah dan menyenangkan, dan setiap tindakan yang ia arahkah kepada orang yang ia cintainya itu selalu didasarkan kebaikan. Ketika cinta itu telah terlontar, begitu cepat ia akan menyentuh hati orang yang ia cintai. Lalu cinta itu memantul kembali melalui perlakuan yang serupa dari yang dicintai kepada yang mencintai.
Begitu mudahnya mata meneteskan air, karena terharu tatkala melihat orang berbuat baik kepada orang lain. Begitu mudah hati kita bergetar tatkala menyaksikan ada saudara kita yang mengulurkan pertolongan kepada saudara lainnya yang tertimpa bencana. Semua itu adalah bukti betapa cepat virus cinta itu menyebar. Tidak hanya kepada orang yang sedang mereka perhatikan dengan penuh cinta itu, tapi juga kepada kita orang-orang sekeliling yang sedang menyaksikan berlangsungnya peristiwa mencintai itu.
“Cintailah orang lain, maka engkau akan mendapatkan cinta. Tebarlah kebaikan, maka engkau akan mendapatkan kebaikan. Perlakukan orang lain secara istimewa, maka orang lain akan memperlakukan kamu dengan istimewa pula.” Inilah serangkaian kata bijak yang sering kita dengar orang-orang tua dulu. Sederhana memang, tapi begitulah kenyataan adanya. Sejalan dengan nasihat orang-orang tua ini, sesungguhnya ketika seseorang sedang mencintai orang lain, ia sedang mencinta dirinya sendiri.
Sungguh betapa indahnya dunia ini apabila dipenuhi oleh orang-orang yang penuh dengan cinta dan kasih. Begitu mudahnya orang-orang saling memberikan pertolongan. Begitu mudahnya seseorang memberikan perlindungan. Kalau sudah demikian adanya, maka bukan sebuah ilusi jika surga benar-benar telah datang jauh sebelum kiamat terjadi. Dan inilah sebenarnya alasan utama hadirnya agama Islam yang dibawa Rasulullah itu.
“Islam” demikian kita menyebut agama kita. Tentu saja penyebutan kata Islam bukanlah asal penyebutan, tanpa makna di dalamnya. Kata Islam adalah derivasi dari kata S(sin), L(lam), M(mim). Kata ini juga melahirkan kata salam yang artinya damai. Pada saat yang sama kata ini didefinisikan terkaitan dengan keutuhan kesehatan, kesejahteraan dan kebaikan. Dalam Al-Quran disebutkan istilah Dârussalâm yang menunjukkan arti surge, dimana ucapan salam yang disampaikan Allah kepada orang yang diberkati adalah kalimat, “Damailah damailah”. Bagaimana cara kita mewujudkan kedamaian itu, jawabannya adalah cinta.
Rasulullah, pewarta risalah Allah itu, adalah contoh yang paling sempurna bagaimana beliau mengisi hari-harinya dengan penuh cinta. Cintanya tidak sebatas kepada keluarga dan sahabatnya-sahabatnya, tapi menyebar keseluruh umat manusia. Cintanya tulus kepada seluruh umat manusia, tanpa pernah memilih-milih, bahkan cintanya diberikan kepada musuh-musuhnya. Dengan cintanya yang teramat besar itulah, pada detik-detik menjelang ajal beliau, mulut beliau terus berucap memanggil-manggil umatnya: “ummatî…ummatî…ummatî….”
Inilah kata-kata beliau, sebuah luapan dari apa yang sedang bergejolak dalam batinnya. Beliau begitu mencintai umatnya. Rasa cinta itulah yang membuat dirinya khawatir akan nasib umatnya sepeninggalannya kelak. Rasa cintanya yang besar itu telah sanggup melupakan dirinya sendiri yang sedang menghadapi ajal.
Cinta Rasulullah seluas samudera. Dengan cintanya itu, ketika beliau mendapatkan cacian dan makian oleh orang-orang yang membenci dakwah yang dilakukannya, sama sekali beliau tidak membalasnya. Sebaliknya Rasulullah malah berdoa: “Allâhummahdî qaumî fainnnahum lâ ya’lamûn.” Artinya: “Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya ia tidak tahu”.
Ketika Rasulullah dikejar-kejar orang-orang kafir yang menolak risalahnya hendak dibunuh, malaikat Jibril tidak tega melihatnya, lalu berkata: “Muhammad biarkan aku angkat gunung ini dan aku buat mereka semua musnah.” Tapi Rasulullah menolak atas tawaran malaikat Jibril. Dengan halus beliau berkata: “Jika mereka engkau musnahkan, lalu kepada siapa risalah ini hendak aku sampaikan?”
Meski pun bertahun-tahun lamanya Rasulullah dimusuhi oleh orang-orang kafir Makkah. Namun ketika Rasulullah menjadi kuat dan banyak sekali pengikutnya hingga beliau mampu menaklukkan Makkah, tak sedikit pun terlintas dalam pikirannya untuk membalas dendam. Sebaliknya, beliau dengan tegas mengatakan: “Siapapun yang masuk rumah Abu Jahal, maka dia dalam tanggunganku”.
Pada waktu itu, Rasulullah sama sekali tidak melukai orang-orang Pagan dan mereka yang tidak seiman. Rasulullah datang hanya untuk menghancurkan patung-patung itu. Lalu beliau kembali ke Madinah. Pernah Rasulullah mengatakan, “Orang-orang non-Muslim atau kafir dzimmi, semua berada di dalam perlindunganku. Siapapun yang mengganggunya mereka adalah musuhku”.
Pembaca Indosuara yang budiman.
Dengan sekelumit penjelesan mengenai pentingnya cinta (cinta suci) di atas sesungguhnya saya hanya ingin mengatakan, bahwa Rasulullah adalah pribadi yang diliputi cinta suci. Yaitu mencintai segala sesuatu karena Allah semata. Pertanyaannya sekarang, siapkah kita meneladani cara Rasulullah menebarkan cinta suci sebagaimana pemaparan saya di atas? Insyâ Allâh!
Ole: Habiburrahman El Shirazy






